NGeBlog Lagi oYyy..

Posted: March 16, 2012 in Profil

Sebenarnya bukan pertama kali ngeblog sih, pada zaman dahulu kala tepat pada zaman masuk SMK kelas XI sudah mulai ngeblog kalau tidak salah (berarti bener dung 😀 ) di era tahun 2005-an dan faktanya sudah ku buat blog di sokheh.wordpress.com, sokheh.blogspot.com dan sokheh.co.cc, yang terakhir sudah kena “hukum alam”, kalau tidak percaya ya klik ajah :). waktu itu dapet tugas bikin blog ala kadarnya *sing penting online..

Loh kok bikin lagi?? jawabnnya sangat singkat padat dan jelas, nama “sokheh” ternyata sulit untuk diucapkan apalagi dihafalkan. Hmmm.. gara2 salah tulis di ijazah SD sampai sekarang pun ngikutin.

Sokhe begitulah nama panggilanku waktu SD, masuk MTs panggilanku berubah lagi jadi Sokhikh nah yang ini nih yang bener memang namaku diambil dari bahasa Arab yang artinya benar, sempurna, sehat, tanpa ada cacat. Maklumlah penghuni madrasah sudah fasih tuh bahasa arabnya kekekeke..

Tahun 2003 masuk SMK, lagi2 persoalan nama bikin jantungku mau copot, mau ga copot giman lah wong pengumuman PSB (baca: Pendaftaran Siswa Baru) namaku ga ada. Sempet sedih mau nangis juga, sudah jauh2 brangkat dari rumah dengan sepeda pancal ngebut pula, lihat pengumuman ternyata infonya sperti itu ditambah lagi pendaftaran utk masuk sekolah negeri sudah ditutup pada hari itu juga (hari terakhir),  terpaksa jika tdk lolos seleksi ya masuk sekolah swasta. 😦

Perjuangan belum berakhir, ternyata ada salah satu temen yang aku kenal, diah malah lolos seleksi padahal nilai NUN msh di bawah ku, rasa penasaran pun mulai bergejolak. Aku cek lagi papan pengumuman bolak balik awal akhir dan…… ada yang aneh. ada nama siswa lolos  yang berasal dari sekolah yang sama denganku tepatnya MTs Darul Ulum dengan nilai NUN yang sama juga dengan nilaiku, aku pun berlari menuju ruang guru dan menanyakan hal tersebut. Alhamdulillah gan ternyata itu namaku yang salah ketik ….

Ceritanya dilanjut ke episode selanjutnya ya…

Advertisements

Kalimasada, jimat apaan?

Posted: March 16, 2012 in Umum

Pada jaman dahulu yang namanya jimat selalu diperebutkan dan selalu berusaha untuk bisa mendapatkannya walau penuh dengan perjuangan dan melakukan kekerasan demi mendapatkan jimat yang bisa digunakan untuk kekebalan dan kesaktian diri orang yang memiliki jimat tersebut. Salah satu yang diperebutkan dalam dongeng ini adalah jimat kalimasada.

Konon pemilik Jimat kalimasada adalah Prabu Darmakusuma, salah satu anggota keluarga Pandawa.Yang diperoleh dari Mbah buyutnya yang bernama Palarasa.Jimat ini sangat ampuh karena bisa digunakan apa saja sesuai kemauan pemiliknya. Sehingga jimat kalimasada jadi rebutan para pemimpin dunia.

Ada seorang yang ingin memiliki kesaktian yang luar biasa. Dia adalah Dewa Serani. Dewa Serani ingin menguasai dunia, maka dia bertanya pada ibunya Betari Durga (istri Betara Kala)Bagaimana agar bisa menguasai dunia? Ibunya memberi saran agar dia memiliki jimat Kalimasada.Siapakah pemilik jimat itu ibu tanya Dewa Serani pada ibunya.Pemiliknya adalah Prabu Darmakusuma, saudara tertua Pandawa Lima.

Suatu hari Dewa Serani berhasil mencuri Jimat Kalimasada tersebut, tapi berkat ketangkasan Arjuna salah satu dari satria Pandawa, jimat itu berhasil direbut kembali.

Sebenarnya ada apa dibalik dongeng zaman kerajaan Demak ini menurut ajaran Islam? Ternyata yang dimaksud jimat itu adalah “Azimah” yang artinya sesuatu yang bertuah atau sakti. Sedangkan “sada” kependekan dari syahadat. Jadi yang dimaksud Jimat Kalimasada itu adalah Azimat Kalimat Syahadat. Yaitu rukun Islam yang pertama. Mengucapkan kalimat syahadat.

Itulah sebabnya orang yang ingin hidupnya tentram, aman dan bahagia dunia akherat, terhindar dari godaan setan dan jin, mereka harus masuk Islam. Karena syahadat adalah rukun Islam yang pertama.

Pandawa lima digambarkan sebagai rukun Islam yang jumlahnya ada lima. Siapa saja mereka itu? Yang pertama adalah Prabu Darmakusuma atau disebut juga sebagai Yudistira yang digambarkan dalam wayang kulit dibagian kepalanya memakai ikat atau sumping yang bertulisana Kalimat syahadat. “ Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan/Rasul Allah”

Sedangkan yang nomer dua Sena atau Werkudara, mengenakan gelang supit urang, wajahnya menunduk ke bawah yang menggambarkan orang yang sedang sholat. Bila pekerjaannya belum selesai dia tidak akan melayani orang lain. Itulah gambaran orang yang sedang sholat, bila belum selesai tidak boleh membatalkannya hanya karena urusan yang tidak penting. Werkudara atau Sena punya ajian yang sangat ampuh yaitu Pancanaka. Lima kekuatan yang diperoleh karena kekhusukannya dalam sholat. Artinya bila sholat dilakukan dengan baik maka kita akan menjadi manusia yang tangguh.

Sedangkan Janaka atau Arjuna atau juga disebut Permadi, punya jiwa yang tguh karena senang bertapa atau berpuasa. Yaitu rukun Islam yang ketiga. Dengan puasa manusia akan punya hati yang bersih dan jiwanya kuat menghadapi ujian dan godaan yang sering datang silih berganti. Selain itu wajah orang yang sering puasa itu juga berseri seri dan terlihat cerah.

Lalu bagaimana dengan rukun Islam yang ke empat dan ke lima? Ternyata rukun ini digambarkan oleh tokoh Pandawa yang lain yaitu Nakula dan Sadewa. Dua satria ini senang bekerja berpenampilan necis. Karena giat bekerja otomatis mereka sangat kaya. Mereka tidak pelit membayar zakat. Sebagai rukun Islam yang ke empat.Dengan kekayaaannya mereka sadar dan merasa mampu untuk menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam yang ke lima.

Itulah gambaran dari Pandawa Lima menurut versi kerajaan Demak yang menyebarkan Agama Islam dengan pendekatan wayang yang ada di pulau jawa.

Bagaimana dengan tokoh yang ingin mencuri jimat Kalimasada? Dewa Serani adalah masuk dalam kelompok kafir yang tidak mengakui adanya rukun Islam. Karena Dewa Serani adalah putra dari Batara Kala yang selalu bersifat jahat dan ingin merusak tatanan yang sudah baik.

Itulah dongeng singkat tentang Jimat Kalimasada yang selalu diperebutkan oleh tokoh perwayangan pada jaman dahulu. Ini merupakan salah satu cara agar dengan mudah ajaran agama Islam bisa diterima oleh masyarakat yang suka kesenian wayang. Sambil menikmati kesenian wayang tanpa terasa hatinya disentuh agar bisa menerima kebenaran yang diajarkan oleh Islam. Tanpa adanya pertumpahan darah